Jakarta,BANTENG POS-
Budayawan dan filsuf Mohamad Sobary menyoroti fenomena politik yang terjadi dalam Sidang Kabinet Paripurna, di mana Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka didudukkan sejajar menteri.Padahal seharusnya duduk di samping Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, insiden tersebut bukan sekadar urusan teknis, melainkan sebuah pesan simbolik yang sangat terang benderang dari seorang pemimpin senior kepada juniornya.
Sobary membedah peristiwa ini melalui sudut pandang antropologi budaya Jawa. Dalam pandangannya, orang tua menggunakan simbol untuk menyampaikan pesan secara halus namun tegas.
"Kalau dari Prabowo, itu artinya dikecilkan. Si wakilnya dikecilkan atau dicilikke," ujar Sobary. Ia menilai Prabowo menempatkan Gibran layaknya anak kecil yang tidak perlu dilibatkan dalam forum tingkat tinggi para menteri koordinator dan pembahasan rahasia negara.
Simbol Politik
Lebih lanjut, Sobary menganalisis bahwa hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo kini telah mengalami keretakan yang semakin nyata. Ia menilai langkah-langkah politik Jokowi saat ini mencerminkan kecemasan tingkat tinggi terhadap masa depan kekuasaannya.
Di sisi lain, Sobary melihat sikap yang ditunjukkan kubu Jokowi sebagai bentuk persiapan menghadapi kemungkinan terburuk. Ia mengibaratkan Gibran saat ini sedang bersiap menghadapi dinamika politik yang semakin berseberangan dengan istana.
"Artinya Gibran ini sedang mencabut kerisnya di hadapan presiden, atau setidaknya keris itu sudah diputar ke depan, disiapkan untuk bertempur sewaktu-waktu," tegas Sobary.
Kritik Tajam Terhadap Kapasitas Kepemimpinan
Sobary juga melontarkan kritik keras terhadap kapasitas Gibran sebagai orang nomor dua di Indonesia. Ia berpendapat bahwa Gibran bukanlah figur yang bertumbuh (*become*) secara matang melalui proses kepemimpinan, melainkan sosok yang "dijadikan" demi kepentingan ambisi kekuasaan tertentu.
Sobary bahkan menyarankan agar pihak terkait bersikap lebih realistis demi menjaga kehormatan politik.
Menurutnya, mundurnya seseorang dari posisi yang tidak mampu diemban jauh lebih terhormat daripada memaksakan diri di tengah krisis legitimasi dan kapasitas.
"Kamu bilang saja sama bapakmu. Jangan maksa saya. Wong saya juga enggak tahu, Pak. Mundur lebih terhormat," pungkasnya dalam sebuah acara podcast.(***)
tim/redaksi
Tags
Jakarta